Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juli 2018

Las Vegas -Xavier Hunter adalah seorang pemburu hantu (ghost hunter). Ia mendengar tentang 'roh-roh'yang gelisah yang konon terjebak di terowongan gelap sebuah tambang tua.

Tambang tersebut juga terkenal sebagai lokasi para penyihir atau paranormal untuk berkumpul dan mempraktikkan keahlian mereka dalam ilmu hitam.

Di sana juga muncul legenda soal tommyknockers -- yang diyakini berasal dari suara ketukan yang terdengar sesaat sebelum tambang runtuh.

Tertarik dengan kisah-kisah horor di sana, suatu malam, Xavier pergi ke area tambang yang terletak 25 mil atau sekitar 40 kilometer di luar kota Las Vegas, Amerika Serikat. Ia membawa kamera dan mengajak seorang temannya, Kaytie.

Saat kedua pemburu hantu itu mulai menjelajah arena tambang, mereka mencium aroma tak sedap yang menyeruak. Baunya mirip daging busuk. Suara geraman aneh juga terdengar dari dalam terowongan.

Belum sempat masuk lebih jauh ke lubang tambang, Xavier dan Kaytie memutuskan untuk balik kanan. Mereka cepat-cepat menuju ke pintu tambang setelah mengaku menjumpai kelebatan bayangan misterius.

Belakangan, saat memeriksa rekaman, Xavier menjumpai penampakan 'sosok berkerudung' yang bersembunyi di kegelapan di belakang mereka.

Kehadirannya begitu 'jahat' sehingga Xavier merasa sakit, mual dan pusing.

"Aku tak takut memasuki tambang itu, justru penasaran untuk mengecek apakah legenda itu benar. Jadi kami masuk dengan pikiran terbuka dan tidak berharap untuk menemukan apapun," kata dia, seperti dikutip dari mirror.co.uk, Senin (9/7/2018).

Namun, mereka mengaku justru menjumpai penampakan misterius. "Kami tak langsung melihatnya, baru mengetahuinya setelah melihat rekaman video," kata dia.

Meski tak melihat dengan mata kepala sendiri, Xavier mengaku, pada saat bersamaan dengan kemunculan penampakan diduga hantu tersebut, ia merasa mual dan pusing. "Aku muntah dan merasa sangat pening," kata dia.

Pria itu menambahkan, Kaytie tak merekam adegan saat ia muntah-muntah. "Tepat sebelum sosok itu muncul, kami menemukan pakaian perempuan di dalam terowongan tambang. Mengapa sampai ada di sana dan siapa yang meletakannya?," kata Xavier.

Menurut warga setempat, tambang itu dikutuk dan dihantui oleh tommyknockers setelah sebuah terowongan runtuh di mana setidaknya satu penambang meninggal dunia. Konon, saat ini sekarang rohnya yang gelisah menghantui tambang.

Meski mengaku menangkap penampakan misterius yang membuatnya ngacir dari gua, Xavier memutuskan kembali ke tambang untuk mendapatkan bukti lebih lanjut dan mungkin menemukan 'tersangka' di balik mitos tommyknockers.

Rabu, 04 Juli 2018

Jakarta – Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini mengatakan, fenomena kemenangan kotak suara kosong pada pilkada Kota Makassar harus menjadi eveluasi bagi elite dan partai politik. “Ini mestinya jadi tamparan keras bagi partai politik dan elite untuk berbenah,” kata Titi kepada Tempo, Ahad, 1 Juli 2018.
Menurut Titi, kejutan kemenangan kotak kosong pada pilkada bercalon tunggal di Kota Makassar mengindikasikan bahwa pemilih mulai mampu melakukan konsolidasi diri untuk melawan oligarki elite partai politik yang memaksakan pengusungan calon tunggal. “Ini jadi pembelajaran dan evaluasi bagi parpol agar tidak menyepelekan aspirasi dan kehendak politik rakyat,” katanya.
Dalam catatan Perludem, penyelenggaraan pilkada bercalon tunggal terus meningkat tiap tahunnya. Misalnya, Titi menyebutkan pada 2015 ada 3 daerah yang memiliki calon tunggal, pada 2017 ada 9 daerah, dan pilkada 2018 ada 16 daerah. Selama ini, kata Titi, keberadaan calon tunggal dianggap oleh partai politik sebagai tiket yang mudah dalam meraih kemenangan, dengan menghindari kompetisi antarpasangan calon.
Dengan kemenangan kotak kosong di Kota Makassar, Titi mengatakan bahwa ternyata rakyat tidak bisa dipaksa memiliki logika yang sama dengan partai. “Sehingga kalau selama ini dianggap pemilih itu bodoh, tidak mengerti, ternyata Makassar membalikan logika-logika itu,” kata dia.
Pilkada Wali Kota Makassar hanya diikuti pasangan calon tunggal, yakni Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi. Namun, pasangan ini justru kalah dengan kolom kotak kosong saat Pilkada yang digelar pada Rabu, 27 Juni 2018.
Pemilihan Wali Kota Makassar awalnya diikuti dua pasangan calon, yakni, Mohammad Ramdhan Pomanto atau Danny Pomanto-Indira Mulyasari dan Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika. Belakangan, KPU Makassar mencoret Danny Pomanto dan pasangannya tersandung kasus hukum. Sebelum dicoret, pasangan Danny-Indira akan maju dari jalur independen. Sementara pasangan Munafri-Andi diusung koalisi gemuk 10 partai politik NasDem, Golkar, PAN, Hanura, PPP, PDI-P, Gerindra, PKS, PKPI, dan PBB.
Sejumlah quick count lembaga survei menempatkan suara kolom kosong unggul dengan perolehan 53 persen di Pilwakot Makassar. Menurut Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman, tidak ada yang aneh dengan fenomena menangnya kotak kosong. “Semua ini kan bisa terjadi karena MK membuka peluang jika Pemilu bisa dilakukan walaupun hanya ada calon tunggal,” ujar Arief Budiman, pada Sabtu, 30 Juni 2018.
Sumber: Baca sumberi
Pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia tidak mungkin lebih dari 6 persen jika pemerintah terus berutang sambil mengikuti saran lembaga donor internasional.

Hal itu dikatakan ekonom senior, Rizal Ramli, dalam diskusi “Debat-Tak Debat: Utang Besar Untuk Siapa?” di JCC, Senayan, Jakarta, Selasa (3/7).

“Enggak mungkin (ekonomi) kita bisa tumbuh lebih dari 6 persen. Karena begitu ketinggian, utang nambah, harus direm. Ada rem otomatis, harus diturunkan,” ujar Rizal.

Mantan Menko Perekonomian itu mencontohkan beberapa negara Asia yang mengalami kebangkitan ekonomi. Misalnya, Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi 12 persen selama 20 tahun setelah hancur lebur karena Perang Dunia (PD) II.

“Jepang tumbuh 12 persen dalam 20 tahun setelah Perang Dunia II. China ikut Jepang, tumbuh 12 persen selama 25 tahun,” tuturnya.

Ekonomi negara-negara tersebut bisa tumbuh pesat karena mereka tidak mengikuti saran International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia.

“Mereka tidak pakai cara-cara ikut syarat IMF dan Bank Dunia. Tidak andalkan utang. China utangnya tidak ada, kecuali domestik,” tambahnya.

Jelas Rizal, Indonesia saat ini berada di posisi pertumbuhan tingkat menengah. Padahal, berpuluh tahun lalu tepatnya tahun 1967, tingkat pendapatan semua negara di Asia relatif sama yaitu 100 dolar AS per orang. Bahkan China lebih miskin dari Indonesia dengan pendapatan 50 dolar AS per orang.

“Hari ini Korea 10 ribu dolar, sepuluh kali kita. Thailand dua kali kita, Malaysia tiga kali kita. Apa kita engga pernah mikir para intelek ini? Kita dulu sama miskin, 45 tahun kemudian beda,” ucap Rizal.

Rizal menganalisa penyebab dari kemandekan ekonomi Indonesia adalah dua faktor.

“Korupsi salah satunya. Yang kedua, garis ekonominya. Kebijakan ekonominya manut sama Bank Dunia dan IMF. Enggak ada negara hebat ikut syarat Bank Dunia dan IMF,” tegas Rizal.(kl/rakyatmerdeka)

Minggu, 01 April 2018

Bhima Yudhistira
Oleh :Bhima Yudhistira
Sarapan pagi soal utang untuk meramaikan kicauan bu de sri. Saya jadi inget Bill Clinton bilang “It’s economy stupid!” saat Kampanye tahun 1992. Clinton menyindir saingannya Bush senior yang merasa semua ini urusan politik. Sekarang soal utang mau ditarik2 ke urusan politik. Masak elit politik dan ekonom disejajarkan. Mau 2019 siapa kek 2024 siapa kami ga peduli. Kebijakan yg salah akan kami ingatkan. Begitu juga saat oposan macam pak Yusril dan Pak Prabowo agak melenceng kritiknya, kami yg paling depan untk menegur di ruang publik.

Semoga tulisan ini enak dibaca dan perlu.

*Menggugat Sesat Pikir Utang Pemerintah*

Dogma bahwa utang dalam kondisi aman karena masih dibawah 60% terhadap PDB mulai dipertanyakan. Pemerintah berulang kali menjelaskan ke publik bahwa tak ada salahnya untuk menambah utang. Tentu hal itu disertai gambaran akan jalan tol, jembatan dan bendungan yang sedang dibangun lewat utang. Mantra ajaib bak kaset tua selalu diputar-putar, “Jika berutang untuk pembangunan infrastruktur maka utang tersebut sesungguhnya utang produktif”.

Sedangkan bagi pihak yang meragukan efektivitas utang pemerintah akan dianggap sebagai penghasut yang berbahaya bagi stabilitas perekonomian nasional. Cap menakutkan tersebut dengan nada emosional terlontar dari pimpinan di lapangan banteng. Justru hal ini jadi aneh, kenapa pemerintah takut sekali jika utang dibilang memburuk, tidak efektif dan kurang produktif? Seharusnya kritik ditanggapi dengan kepala dingin bukan tudingan tukang hasut.

Lalu bagaimana seharusnya mengukur resiko dan produktivitas utang? Hal yang paling sederhana adalah mengukur utang terhadap PDB. Didalam UU Keuangan Negara No.17 tahun 2003 disebutkan bahwa batasan maksimal utang adalah 60% terhadap PDB. Tanpa tafsiran yang macam-macam, kesimpulannya kalau utang Pemerintah per Februari 2018 masih Rp4.034 triliun maka sama dengan 29,2% dari PDB alias jauh dibawah ambang batas 60%.

Tapi perkembangan utang nampaknya harus diupdate kembali, batasan utang terhadap PDB menjadi terlalu sederhana. Fakta di Eropa ketika krisis utang tahun 2013-2015 menjadi titik balik keraguan antara batas utang terhadap PDB. Beberapa Negara di Eropa yang memiliki rasio utang diatas 100% seperti Italia dan Belgia tidak masuk dalam program bailout Troika IMF. Sementara negara seperti Irlandia dan Spanyol tahun 2008 memiliki rasio utang 43% dan 39% masuk menjadi daftar pasien IMF yang harus ditolong. Bukan berarti rasio utang irelevan, namun harus dilengkapi dengan indikator lain agar membaca utang tidak oversimplified (terlalu menyederhanakan).

Indonesia juga sering dibanding-bandingkan dengan Jepang. Betul memang Jepang punya rasio utang diatas 200%. Tapi lebih dari 50% utang Jepang dipegang oleh bank Sentral Jepang. Sementara sisanya dikisaran 30% dipegang oleh residen atau penduduk Jepang. Artinya penduduk Jepang dan Bank Sentral Jepang yang memberi pinjaman ke Pemerintahnya. Apa manfaatnya? Ketika ekonomi global memburuk dan mengakibatkan panic sellout dipasar surat utang, Pemerintah Jepang tak terlalu khawatir. Ibu-ibu rumah tangga dan karyawan yang membeli surat utang tinggal mencairkan surat utang tapi uangnya tidak lari keluar negeri, melainkan berputar-putar di dalam ekonomi Jepang.

Kondisi di Indonesia cukup berbeda. Sebesar 38,7% surat utang Pemerintah dipegang oleh investor asing. Artinya, kondisi global seperti tren kenaikan bunga acuan Fed rate, instabilitas geopolitik, dan gelombang proteksionisme negara-negara maju sangat sensitif terhadap pasar surat utang di Indonesia. Karena pasar keuangan sangat dangkal, sekali goncangan eksternal terjadi kaburlah dana-dana asing di surat utang. Jadi tidak perlu heran kok rupiah bisa anjlok hingga 13.700-13.800 bulan Maret ini.

Indikator lain yang harusnya dibandingkan adalah rasio pajak tiap negara berbeda. Perlu dicatat dan dipahami bahwa utang bukan dibayar menggunakan PDB. Jadi rasio utang terhadap PDB sebenarnya hanya gambaran umum. Faktanya utang dibayar dengan penerimaan pajak. Sementara rasio pajak terhadap PDB (tax ratio) di Indonesia hanya 11%. Jangan jauh-jauh membandingkan dengan negara maju. Dengan Negara di ASEAN saja rasio pajak kita salah satu yang terendah, Malaysia sudah 14,2% dan Thailand 15,7%.

Kalau penerimaan pajak kita masih loyo karena rata-rata realisasinya hanya tumbuh 4% dalam 2 tahun terakhir, bagaimana membayar utang plus bunga nya? Munculah apa yang disebut sebagai defisit keseimbangan primer, total penerimaan negara dikurangi belanja, diluar pembayaran bunga utang. Artinya kalau terjadi defisit maka utang dicicil melalui utang baru. Gali lubang tutup lubang, tapi lubangnya saat ini makin dalam.

Yang jelas Carmen Reinhart dan Kenneth Rogoff, dua profesor Harvard University ini juga pernah dibully karena berani memaparkan soal debt overhang (overhang utang). Bahwa utang yang terus meningkat berpotensi menggerogoti pertumbuhan ekonomi. Kasus di negara-negara maju yang diteliti Reinhart dan Rogoff mungkin masih jauh dari Indonesia. Tapi setidaknya kita bisa banyak belajar, bahwa secara teori utang yang awalnya berbentuk leverage (mengungkit modal) bisa berubah menjadi resiko yang membahayakan ekonomi. Karena saat Pemerintah tahun 2017 lalu menambah 14% utang luar negeri, faktanya tidak bisa dipungkiri ekonomi kita hanya tumbuh 5%. Kisah ini menyisakan kekonyolan soal ambruknya beberapa toko ritel modern dan indikator lemahnya daya beli masyarakat yang diprediksi masih terjadi hingga 2018 ini.***

Penulis adalah Peneliti Institute for Development of Economics & Finance (Indef)

Sumber : mediajakarta

Rabu, 28 Maret 2018

Mantan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Fuad Bawazier, membeberkan tiga capaian semu Jokowi dalam Ekonomi. Berikut ulasan lengkapnya…
Tiga Sukses Semu Ekonomi Jokowi
Oleh Dr. Fuad Bawazier
Pertama
Bahwa benar Indonesia telah masuk ke dalam G-20 karena PDB (GDP) pada urutan ke 16 dengan nilai USD 1 Triliun (2017).
Dengan jumlah penduduk pada urutan No. 4 setelah China, India, dan USA, idealnya Indonesia pada urutan No. 4 PDB.
Sedangkan GDP berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP), Indonesia berada pada ranking 8. Berbagai forecast memperkirakan baru pada tahun 2050 PDB Indonesia bisa berada pada nomor urut 4, sesuai dengan jumlah penduduknya.
Meskipun GDP Indonesia pada urutan ke-16, tetapi GDP per-capitanya masih pada urutan ke-116, sedangkan GDP – PPP per-capita ranking ke-100. Sementara nominal Gross National Income (GNI) Indonesia pada ranking 17 tetapi GNI/capita masih ranking 147 dan GNI/capita berdasarkan PPP pada ranking 122.
Dengan jumlah penduduk 260 Juta, maka nominal GDP per-capita USD 3.850 sedangkan GNI/capita USD 3.400, artinya terdapat sekitar 10% GDP yang dimiliki asing.
GDP maupun GNI per-capita ini akan lebih buruk lagi apabila dibuat kluster per kluster mengingat besarnya ketimpangan kekayaan yang terjadi di Indonesia, dimana 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 45,5% kekayaan nasional, dan 10% terkaya menguasai 75% kekayaan nasional. Lebih spesifik lagi adalah total kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia meningkat tajam dari USD 22 Miliar (2006) menjadi USD 119 Miliar (2017) atau meningkat 5,5 kali dalam 10 tahun. Sementara itu pertumbuhan 40% orang terkaya dalam 10 tahun 317%, atau 4 kali pertumbuhan nasional.
Ketimpangan ini adalah ketidakadilan yang merupakan tantangan nyata bagi Presiden Jokowi.
Kedua 
Swasembada beras masih semu dan swasembada pangan masih jauh dari harapan.
Dalam rentang waktu 2000-2015 Indonesia selalu import beras dengan total 15,4 juta ton atau rata-rata 1 Juta ton/tahun dengan nilai USD 5,83 Miliar atau Rp 78,7 Triliun (kurs Rp13.500).
Tidak ada import beras dalam tahun 2016 dan 2017 tetapi kembali import 500.000 ton dalam tahun 2018.
Data tentang produksi dan stock beras serta konsumsi beras di Indonesia dari waktu ke waktu sering simpang siur antar instansi pemerintah. Kementerian Pertanian cenderung melaporkan adanya surplus beras sementara Kementerian Perdagangan cenderung sebaliknya (defisit) sehingga mendorong adanya import beras.
Dibalik import beras yang relatif kecil tadi sebenarnya Indonesia semakin bergantung pada pangan import yaitu biji gandum (wheat grain) yang sebagian besar dikonsumsi sebagai substitusi beras. Artinya bila tidak ada import wheat grain, Indonesia masih harus import beras lebih besar lagi.
Dalam tahun 2015 dan tahun 2016 Indonesia import biji gandum masing-masing sebesar 7,4 Juta ton dan 10,5 Juta ton atau naik 42% sedangkan dalam tahun 2017 import biji gandum 11,5 Juta ton (senilai USD 2,6 Miliar) atau kenaikan sebesar 9% dari tahun 2016.
Biji gandum ini diolah menjadi tepung terigu (wheat flour) di 25 pabrik pengolah (flour mills) yang 80% berlokasi di pulau Jawa, untuk berbagai produk seperti bakery, noodle, dan biskuit oleh small and medium enterprises (66%) dan oleh big and modern industry (34%).
Pengertian atau slogan diversifikasi pangan juga sering ditafsirkan dan diarahkan kepada alternatif lain dari beras, bahkan yang bersumber dari bahan pangan import. Pergeseran (shifting) ke pangan import khususnya gandum, dalam jangka panjang akan semakin melemahkan ketahanan pangan nasional sebab Indonesia belum siap untuk menanam gandum. Berbeda dengan ketergantungan pada import beras yang masih berpeluang diatasi dengan produksi sendiri.
Ketiga
Soal utang Pemerintah yang selama 3 tahun lebih pemerintahan Jokowi naik sekitar Rp. 1.200 Triliun, jauh melebihi kenaikan pendapatan pajak yang stagnan sebagai ukuran kemampuan bayar utang.
Pemerintah selalu berdalih bahwa utang negara yang kini berjumlah Rp 4.000 triliun atau sekitar 29,5% dari PDB adalah masih jauh di bawah ketentuan Undang Undang Keuangan Negara yang batas maksimalnya 60% PDB, dan jauh pula di bawah ratio utang negara-negara lain. Utang Jepang yang sering dijadikan pembanding ratio utangnya terhadap PDB jauh di atas 200% tetapi Jepang mempunyai ciri-ciri tersendiri yaitu:
1. Utangnya kepada rakyatnya sendiri dan kepada Bank Sentral Jepang dengan ratio masing-masing sekitar 50%.
2. Utangnya dalam mata uangnya sendiri yaitu Yen.
3. Bunganya sangat rendah hanya sedikit di atas 1%. Bandingkan dengan bunga utang Indonesia yang tertinggi di Asia dan bahkan sebagiannya masih 2 digit.
4. Kredit rating Jepang A+ alias sangat secure sementara rating Indonesia BBB.
5. Meskipun utang Jepang tinggi tetapi dari kaca mata riil ekonomi, Jepang mempunyai net international investment positions USD 2.8 Triliun yang berarti memiliki net external assets positif alias bangsa kreditor. Berbeda dengan Indonesia yang net international investment positionnya negatif sekitar USD 400 Miliar alias mempunyai net external liabilities atau benar-benar negara dengan neraca sebagai negara debitor.
Pemerintah tidak membandingkan tax ratio Jepang yang 31% PDB sementara tax ratio Indonesia kurang dari 11% atau praktis yang terendah di Dunia. Pemerintah juga tidak membandingkan dengan ratio APBN terhadap PDB di Indonesia yang amat rendah dibandingkan dengan ratio yang sama dari negara- negara lain yang sering dijadikan pembanding. Begitu pula dengan debt service ratio di Indonesia yang 40% atau tertinggi di Asia Tenggara, sementara batas yang dianggap aman maksimal 25%. Sementara itu sekitar 41% utang negara dalam valuta asing. Dengan average time to maturity 9 (Sembilan) tahun dan yang bertenor (jatuh tempo) 5 (lima) tahun sebesar 40% nya, akan menjadi beban berat APBN dalam 5 (lima) tahun ke depan.
Kekhawatiran lain adalah membengkaknya utang pemerintah karena kurs rupiah yang cenderung melemah sehingga diperlukan uang dari pendapatan pajak yang lebih banyak lagi untuk pembayaran utang dalam valas.
Kekhawatiran lebih lanjut adalah keterbatasan valas untuk membayar utang dalam mata uang asing mengingat 5 (lima) hal, yakni:
1. Neraca perdagangan yg cenderung defisit. Dalam 3 (tiga) bulan terakhir ini yaitu dari Desember sampai dengan Februari 2018 mengalami defisit total USD 1,1 Miliar atau rata-rata per bulan USD 364 juta.
2. Kenaikan cadangan devisa yang bersumber dari utang luar negeri dan hot money yang sewaktu-waktu mudah ditarik keluar negeri.
3. Tax ratio yang rendah tetapi cenderung menurun yang mengindikasikan ke depan kemampuan Pemerintah akan menurun dalam memenuhi kewajiban pembayaran utangnya
4. Sektor industri yang merupakan penyumbang pajak (tax revenue) sebesar 31% cenderung menciut karena terjadinya de-industrialisasi yaitu dari 28% (1997) menjadi 20% PDB (2017)
5. Kenaikan anggaran 2018 untuk subsidi seperti listrik dan BBM yang akan membebani ekstra APBN karena Presiden Jokowi ingin menjaga dukungan politik rakyat dalam menghadapi pemilu 2019.
Cepat atau lambat pasar akan menyadari bahwa Pemerintah akan memasuki masa-masa sulit untuk memenuhi kewajiban pembayaran utangnya.
Jakarta, 16 Maret 2018

sumber : Rilis.id
PIDATO Prabowo yang antara lain meramalkan Indonesia bakal bubar pada 2030 menjadi viral dan menuai komentar pro-kontra. Kalangan Istana dan para pendukungnya tentu saja menampik ramalan tersebut. Bahkan tidak sedikit dari kelompok ini yang cenderung nyinyir dalam menanggapi.

Sebaliknya, mereka yang merasa khawatir atas perkembangan negeri tak urung ikut merasa ngeri. Jangan salah, mereka tidak melulu kelompok pro dan pendukung Prabowo. Saya adalah salah satu di antaranya.

Saya belum membaca novelGhost Fleet karya PW Singer dan August Cole yang jadi referensi ramalan Prabowo. Tapi saya tahu, bahwa ramalan Prabowo bisa jadi kenyataan. Faktanya, memang sudah ada beberapa negara yang bubar, kok. Jumlahnya tidak kurang dari 10 negara yang bubar. Yang terbaru,Soviet dan negara-negara Balkan lainnya. Kalau kita tarik mundur lagi, banyak kerajaan, kesultanan, kesunanan, dan kekhalifahan yang bubar.

Jadi, kalau Indonesia pun akhirnya jadi bubar(semoga tidak), tentu bukan mustahil. Secara geografis, Indonesia tetap masih di titik koordinatnya. Secara pemerintahan, Presiden dan para pejabatnya masih para WNI. Tapi, semua itu hanya lambang. Kekuasaan sejati ada di tangan asing, yang memberi utang dalam jumlah superjumbo dan berbagai iming-iming kemudahan lainnya.

Srilanka, Tibet, Zimbabwe, dan Angola adalah beberapa contoh negara yang kini tidak lagi berdaulat. Penyebabnya sama, mereka terjerat utang amat besar kepada China. Umumnya utang itu digunakan untuk membangun proyek infrastruktur. Namun karena tidak mampu membayar, mereka akhirnya menyerahkankepada China. Silakan klik http://www.portal-islam.id/2017/11/tengoklah-nasib-angola-zimbabwe-kini.html.

Utang Menjulang`

Utang luar negeri yang menjulang, adalah pintu masuk tergadainya kemerdekaan sebuah bangsa. Pemerintah, terutama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) selalu menepis anggapan Indonesia darurat utang. Penjelasan yang senantiasa diulang-ulang, rasio utang Indonesia terhdap PDB masih di bawah 30%. Angka ini, jauh dari rasio yang diizinkan UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara, yaitu 60%.

Sebetulnya capek mendengar bantahan Ani yang isinya mengulang-ulang belaka. Soal rasio utang dan PDB, misalnya. Sudah banyak tulisan yang menyebut menjadikan PDB sebagai nisbah dengan utang jelas salah, keliru, sesat dan menyesatkan.Sri juga sering membandingkan utang Indonesia dengan jumlah utang negara-negara maju lain yang jauh lebih besar.Tidak tanggung-tanggung, dia menyebut Jepang, Amerika, dan sejumlah negara lain sebagai pembanding.

Di sinilah kesalahan mendasar Menkeu idaman ‘pasar’ itu. Dia pikir orang Indonesia bodoh semua apa? Dia pikir, hanya dia saja yang ngerti ekonomi makro? Saya sebenarnya malas mengomentari bantahan yang bak nyanyian usang ini. Namun, membiarkan kesesatan yang menyesatkan melenggang, jelas sebuah kesalahan fatal.

Dalam membuat perbandingan, Sri selalu hanya menyodorkan nominal utang Jepang dan rasionya dengan PDB. Nominal utang Jepang memang jauh lebih tinggi daripada Indonesia. Anak kuliah semester awal juga paham. Begitu juga dengan rasio utang Jepang terhadap PDB yang lebih dari 250%. Tertinggi di dunia. Hal serupa pun terjadi pada Amerika, yang per Januari 2018 juga utangnya mencapai US$19.947 miliar. Angka ini jauh melampuai PDB mereka.

Sepertinya Sri sengaja menyembunyikan fakta bahwa mayoritas surat utang Jepang dimiliki dalam negeri. Bank of Japan memegang hampir 50%. Selain itu, jangan lupa, bunga utang Jepang sangat murah, hanya berkisar 1%. Bandingkan dengan bunga obligasi yang diobral Sri hingga belasan persen, njomplang sekali bukan?

Belum lagi kalau dikaitkan dengan net international investment positions (NIIP). Jepang menyandang status sebagai negara dengan NIIP positif. Artinya, Jepang memiliki net external Assets, bukan net external liabilities. Dengan kata lain, Jepang adalah adalah negara kreditor. Bukan itu saja, Jepang tercatat punya NIIP tertinggi di dunia. Angkanya mencapai US$2.813 triliun. Bandingkan dengan Indonesia, yang minus US$413,106,000,000. Artinya, Indonesia termasuk negara debitur.

Jepang dan AS memang punya utang jauh di atas PDB masing-masing. Namun utang keduanya masuk kategori aman. Pasalnya, rasio pajak mereka terhadap PDB masing-masing Jepang sekitar 36% dan AS 26%. Sedangkan Indonesia, angkanya dari dulu sulit bergeser dari 11-12%. Ini jadi yang terendah di antara negara anggota G20, bahkan di dunia. Sebaliknya, pajak penghasilan di Indonesia tergolong tinggi di dunia dan cukup memberatkan perusahaan mau pun orang pribadi.

Banyak ekonom mengkritik perbandingan utang dan PDB karena dianggap bukan perbandingan yang logis. Rasio utang terhadap PDB tidak mencerminkan kondisi sesungguhnya dari kemampuan negara dalam membayar utang-utangnya. Padahal ukuran sehat tidaknya utang terletak pada kemampuan pemerintah melunasi kewajibannya.

Ada parameter yang lebih adil untuk digunakan mengukur utang, yaitu nisbah utang dan kemampuan ekspor alias debt to service ratio (DSR).OECD mendefinisikan DSR adalah perbandingan (persentase) dari total pembayaran cicilan pokok utang dan bunga utang yang dibayar suatu negara pada akhir tahun dibandingkan dengan total ekspor barang dan jasa negara.

Sejak 2011 utang luar negeri Indonesia terus naik. Bank Indonesia (BI) menatat, sampai Januari 2018, jumlahnya US$357,5 miliar. Dengan kurs BI hari ini (Senin, 26/03/18) yang Rp13.776/US$, angkanya setara Rp4.925 triliun, hampir Rp5.000 triliun!Sebaliknya, ekspor justru terus melorot. Sampai akhir 2017, hanya US$145 miliar. Maka tak heran kalau rasio utang luar negeri terhadap ekspor terus menanjak mencapai 176,19%. Padahal rasio yang normal ada 125%.Sementara itu, Thailand mencapai US$231 miliar, Malaysia US$ miliar, dan Vietnam US$160 miliar.

Tidak Peduli

Tapi Sri dan para penganut neolib mana peduli? Mereka juga tidak peduli negara tersedot gila-gilaan untuk membayar utang. Pada 2017 saja, APBN kita mengalokasikan anggaran Rp486 triliun hanya untuk membayar utang. Ini adalah porsi terbesar anggaran kita dalam APBN, jauh mengalahkan anggaran pendidikan yang Rp416 triliun dan infrastruktur yang 'cuma' Rp387 triliun.

Jumlah kewajiban kita terhadap utang tahun 2018 makin mengerikan saja. Di APBN 2018 ada duit sebanyak Rp399,2 triliun untuk membayar pokok dan cicilan utang. Jumlah itu di luar Rp247,6 triliun yang hanya untuk membayar bunga utang. Total jenderal, untuk urusan utang ini Indonesia harus merogoh kocek dalam-dalam hingga Rp646,8 triliun!

Saya tidak yakin, Sri yang, konon, doktor ekonomi top tidak paham soal ini. Bagaimana mungkin seorang yang berkali-kali memperoleh penghargaan bergengsi kelas dunia tidak tahu, bahwa menisbahkan utang dengan PDB adalah permainan negara-negara kreditor untuk menjerat negara debitor dengan utang?

Mohon maaf, hanya ada dua alasan dari sikap ndableg-nya dalam soal ini. Pertama, dia memang tidak paham (lho, katanya ekonom top?). Kedua, dia menjadi bagian dari para pembuka palang pintu benteng bangsa bagi masuknya kekuasaan asing!

Dengan kondisi seperti ini, tidakkah ramalan Indonesia bakal bubar pada 2030 bisa menjadi kenyataan. Bubar atau tidak, yang pasti saat ini kedaulatan negara memang terasa jadi barang mewah. Tengok saja, bagaimana kontrak-kontrak utang yang dibuat untuk pembangunan infrastruktur kita. Sistem turn key project mengharuskan kita mengimpor bahan baku, bahan penolong, teknologi, perlengkapan, peralatan sampai tenaga kerja dari asing si pemberi utang.

Begitu lunglainya Indonesia, hingga tidak berdaya menerima banjir tenaga kerja asing dengan semua kategori, termasuk kelas kuli. Ironisnya, kuli-kuli asing itu dibayar sangat tinggi. Untuk seorang tukang asing dibayar Rp15 juta/bulan. Sedangkan tenaga tukang yang sama dari dalam negeri harus puas dengan bayaran sesuai upah minimum regional yang sekitar Rp3 jutaan.

Soekarno puluhan tahun silam mengatakan, Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. Para penjajah memang tidak mungkin masuk kecuali atas bantuan para pengkhianat.

Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie M Massardi dalam cuitannya di @AdhieMassardi menulis, Kenapa Belanda bisa kuasa lama di negeri ini? Karena piara anjing-anjing lokal yang diberi makan tulang saudaranya sendiri.*


Edy Mulyadi - Direktur Program Centre for Ecbomic and democracy Studies (CEDeS) - Voa Islam
BAROMET.INFO|Setelah melewati jalan berliku, partai besutan Yusril Ihza Mahendra lolos sebagai salah satu peserta pemilu legislatif tahun 2019. Tapi, banyak orang pesimistis partai yang punya hubungan historis dengan Partai Masyumi ini bakal bisa mendulang suara.

Yusril sebagai ketua umum partai tentu saja bersikap optimistis. Dia punya target, Partai Bulan Bintang (PBB) bakal mendapat suara 9 persen. Berikut tiga argumen Yusril:

Pertama, selama ini Yusril dikenal sebagai sosok yang membela kepentingan beberapa pihak dengan jumlah massa besar. Misalnya, FPI dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dengan pembelaan itu, cukup masuk akal jika anggota kedua ormas itu bakal menjadi pemilih PBB.

Kedua, Yusril percaya bahwa selama ini partai-partai dengan basis pemilih umat Islam tidak cukup bisa mewadahi aspirasi umat. Dengan hadirnya PBB di pileg 2019, suara mereka bisa berpindah ke PBB.

Ketiga, PBB telah melewati perjalanan yang sulit untuk lolos dalam pemilu. Yusril dan PBB berusaha membela diri dan berjuang dengan cara konstitusional. Perjuangan itu selain mendapat perhatian besar dari media, juga disaksikan oleh masyarakat. Wajar jika masyarakat akan bersimpati kepada PBB dan memungkinkan mereka memilih partai tersebut.

Selain tiga poin itu, Yusril punya alasan lain, yang mungkin lebih personal dan psikologis bagi internal PBB. Partai ini mendapatkan angka 19. Itu sesuai dengan umur PBB pada tahun 2019 nanti. Konon, kantor kerja Yusril berada di lantai 19. Dan 19 jika dijumlahkan (1+9) hasilnya: 10. Angka yang dianggap sempurna.

Mari kita lihat jejak elektoral PBB. Pada pemilu tahun 1999, PBB mengantongi suara sebesar 2.050.000 atau setara dengan 2 persen. Pada pemilu 2004, mereka mendapatkan suara 2.970.487 atau setara dengan 2,62 persen. Sedangkan pada pemilu 2009, mereka bisa meraih 1,8 juta suara. Di kali terakhir tersebut, PBB tidak lolos parliamentary threshold (PT). Sedangkan pada pemilu 2014, PBB mendaftar lagi dan hanya dapat kue kurang dari 2 persen. Lagi-lagi tidak lolos PT.

Jika dilihat dari data di atas, sebetulnya PBB punya basis pemilih loyal antara 1,5 sampai 2 juta suara. Itu jelas modal yang baik. Modal semacam ini belum tentu dimiliki oleh partai-partai baru peserta pemilu seperti PSI, Partai Berkarya, Partai Perindo, dll. Dan yang tidak bisa diabaikan, PBB sudah punya struktur organisasi yang mapan karena teruji dalam beberapa kali ikut pemilu. Ini hal terberat yang harus dilakukan partai-partai baru. Ingat, bahkan Partai Gerindra, Nasdem, Hanura pun dengan jaringan politik yang luas dan nisbi kuat, tidak langsung mendapatkan persentase besar ketika pertama kali ikut pemilu.

Maka, agak menggelikan jika misalnya PSI menargetkan dapat suara 20 persen pada pemilu 2019 nanti. Sama menggelikan ketika Partai Berkarya memasang target 13 persen. Lebih menggelikan lagi target Perindo: masuk tiga besar. Boleh saja sih memasang target, tapi mbok yang realistis. Bermimpi jangan tinggi-tinggi, kalau terlalu tinggi bisa tersambar pesawat terbang.

Dalam soal target, Yusril paling realistis. Angka 9 persen itu rasional untuk ukuran modal yang sudah dimiliki PBB. Tapi, kalau menurut saya, PBB hanya bisa mendapatkan sekitar 5,5 persen suara. Itu sudah bagus sekali. Karena 5 + 5: 10. Itu sudah bagus. Sungguh.

Bagi partai-partai baru, dapat 3 persen saja sudah bagus. Bagaimana lagi, impian memang selalu indah, sebelum kemudian kenyataan datang.

Sumber : mojok

Jumat, 16 Maret 2018

Namanya Lebai, Ia adalah seorang guru agama yang tinggal ditepian sebuah sungai didaerah Sumatra Barat, oarang-orang dikampungnya memenggilnya Pak Lebai, namun karena ulahnya sendiri yang tidak punya pendirian dia sering ditimpa kemalangan, dan oleh karena itu dia terkenal juga dengan sebutan si Lebai Malang.

Suatu hari, ia mendapat undangan pesta dari dua orang yang sama-sama kaya. Pak Lebai bingung, yang mana yang hendak didatanginya karena pesta itu berlangsung di waktu yang sama, di tempat berjauhan.

Jika ia datang ke undangan yang pertama, yakni di hulu sungai, tuan rumah akan memberinya 2 ekor kepala kerbau. Namun, masakan di sanan konon tidak enak. Lagipula, ia tak terlalu kenal dengan tuan rumah tersebut. Jika ia datang ke undangan kedua, ia akan menerima satu saja kepala kerbau. Namun masakannya enak. Di sana ia juga akan mendapatkan tambahan kue-kue. Lagipula, ia kenal baik dengan tuan rumah tersebut.

Pak Lebai mulai mengayuh perahunya. Namun, ia masih belum juga bisa membuat keputusan, undangan mana yang dipilihnya. Dengan ragu ia mulai mengayuh perahunya menuju hulu sungai. Di tengah perjalanan, ia mengubah rencananya, lalu berbalik menuju hilir sungai. Ketika hilir sungai sudah makin dekat, beberapa tamu terlihat sedang mengayuh perahu menuju arah yang berlawanan. Mereka memberitahukan pada Pak Lebai.

“Kerbau yang disembelih di hilir sangat kurus, Pak Lebai!”

Pak Lebai kemudian berbalik lagi ke hulu, mengikuti orang-orang itu. Sesampai di hulu, ah…. pesta ternyata sudah usai. Para tamu sudah tak ada. Makanan sudah habis. Pak Lebai lalu segera mengayuh perahunya lagi menuju hilir. Di sana pun sama, pesta juga baru saja usai. Sudah sepi, tak ada satu pun undangan yang terlihat. Pak Lebai pun lemas, juga karena kelelahan mendayung ke hulu dan hilir. Ia mulai merasakan lapar, lalu memutuskan untuk melakukan dua hal, yakni memancing dan berburu.

Ia lalu kembali ke rumahnya sebab untuk berburu ia perlu mengajak anjingnya. Ia juga membawa bekal sebungkus nasi. Mulailah ia memancing. Setelah menunggu beberapa lama, ia merasakan kailnya dimakan ikan. Pak Lebai merasa lega. Namun ketika ditarik, pancing itu susah untuk diangkat ke atas. Pak Lebai berpikir, kail itu pasti tersangkut batu atau karang di dasar sungai.

Kemudian ia terjun ke sungai untuk mengambil ikan itu. Berhasil. Ia keluarkan pancing dan ikannya dari lekukan batu. Namun, ups! Begitu ia selesai melakukan hal itu, ikannya malah terlepas. Pak Lebai merasa kecewa sekali. Ia lalu naik ke atas sungai. Sesampainya di atas air Pak Lebai merasa lapar dan ingin memakan nasi bungkus yang dibawanya dari rumah.

Oh, ia juga mendapati nasinya sudah dimakan oleh anjignya! Benar-benar malang nasib Pak Lebai. Kemalangan demi kemalangan didapatinya.

Sikap politik seperti Lebai Malang ini, kayaknya, sedang dimainkan oleh partai Demokrat besutan SBY. Sikapnya yang selalu bimbang, kadang mendekat kubu Prabowo, sebentar kemudian mendekat Kubu Jokowi.
Apakah Demokrat akan bernasib seperti si Lebai Malang???
Waktu akan menjawabnya.
Pemilihan Presiden 2019 tidak lama lagi akan berlangsung. Presiden Joko Widodo atau Jokowi dipastikan maju sebagai petahana dalam ajang pesta demokrasi itu.

Namun, siapa yang akan menjadi rival Jokowi dalam pesta demokrasi lima tahunan ini belum terlihat jelas. Bahkan, wacana munculnya calon presiden tunggal sempat mencuat.

Peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar, cukup menyayangkan makin kecilnya peluang capres alternatif muncul di pilpres 2019. Padahal, banyak nama alternatif yang mungkin bisa menjadi pilihan sebagai pemimpin yang berkualitas untuk Indonesia.

Dia mengatakan, dengan koalisi besar PDIP yang mengusung Joko Widodo sebagai capres bersama, beberapa parpol di parlemen memunculkan dominasi politik atas capres tertentu. Menurut dia, banyak partai politik merasa kalah sebelum bertanding. "Hal ini mematikan demokrasi dengan defisit kader terbaik partai untuk capres," ungkap Rully kepada wartawan, Rabu (7/3).

Dengan tertutupnya peluang kader partai atau tokoh terbaik bangsa diusung sebagai capres maka akan sangat sulit capres alternatif muncul sebagai pilihan untuk memimpin bangsa ini. Desain pilpres seperti ini, menurut dia, sama saja mengarah kepada calon tunggal

Ketua Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menegaskan, partainya tidak akan mendukung koalisi pemerintahan yang mengusung Presiden Joko Widodo (Jokowi). Bahkan, sekalipun pemilihan presiden 2019 hanya memunculkan capres tunggal, PBB siap mendukung kotak kosong.

"Kalau pilpres kembali ke calon tunggal atau mengulang 2014, kecenderungan saya adalah PBB lebih baik jadi leader oposisi. Bahkan, kalau calon tunggal PBB, lebih baik dukung kotak kosong saja. Jelas warna PBB seperti apa, jangan tergoda pada kekuasaan," kata Yusril sesaat setelah rapat pleno KPU di Jakarta, Selasa (6/3) malam WIB.

Yusril menambahkan, dirinya melihat kecenderungan akan adanya calon tunggal pada pilpres 2019 mendatang atau setidaknya akan mengulang pilpres 2014 silam yang hanya mempertontonkan dua pasang calon (paslon). Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu juga memperbesar kemungkinan adanya calon tunggal.

Namun, kata Yusril, kemungkinan calon tunggal dapat dipatahkan dengan adanya poros ketiga selain poros Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Namun, usaha untuk memunculkan poros baru sangat sulit terjadi karena bergantung pada hasil Pemilu 2014 dengan ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold yang cukup tinggi, yaitu 20 persen suara.

"Menurut saya, ini tidak masuk akal dan kami kalah di MK meskipun kami tidak setuju hal itu. Kalau misalnya calon tunggal, barangkali PBB akan kampanye dukung kotak kosong dan menjadi kekuatan oposisi utama di republik ini," kata Yusril menerangkan.

Founder Lembaga Survei Kedai KOPI, Hendri Satrio mengatakan Calon petahana Presiden Joko Widodo dipastikan kalah pada Pilpres 2019, jika melawan kotak kosong alias pasangan capres-cawapres hanya ada satu.

Dia mengatakan, survei yang dilakukan lembaganya sudah dirilis baru-baru ini. Hasilnya, Jokowi kalah telak bila melawan kotak kosong.

"Sama Prabowo, Jokowi menang. Sama siapa pun termasuk Anies, Jokowi menang. Tapi Jokowi kalah dengan kotak kosong, 44,9 persen cuma," sebut Hendri dalam diskusi bertajuk 'Jokowi, Pilpres, dan Kita' di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (3/3).

Untuk itu, dia mewanti-wanti agar para pendukung Jokowi tidak berbesar hati dulu, dan berpikir jagoan mereka bakal mulus jadi kepala negara dua periode.

"Satu calon itu belum tentu melenggangkan Pak Jokowi ke Istana," ujar Hendri.

.
Iqbal F. Randa

Jakarta - Sebanyak 15 partai politik dipastikan akan mengikuti pertarungan di Pemilihan Umum pada 2019 nanti. Jumlah itu ditetapkan setelah Partai Bulan Bintang (PBB) secara dramatis memenangi gugatannya pada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) terkait hasil verifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang sebelumnya hanya meloloskan 14 partai. Drama tersebut menjadi 'bumbu tambahan' dalam persiapan penyelenggaraan pemilu kali ini selain kehadiran empat partai politik baru yang ikut berkompetisi.

Membicarakan keikutsertaan empat partai baru dalam pemilu ini menjadi jauh lebih menarik sebab mereka hadir dalam situasi yang terbilang sulit. Diketahui bila tingkat kepercayaan publik terhadap partai politik saat ini begitu rendah. Selain itu, hasil survei Indobarometer pada Maret 2017 lalu juga menunjukan bahwa sebesar 62,9 persen masyarakat merasa tidak dekat dengan partai politik.

Tantangan semakin berat mengingat pada helatan Pemilu 2019 nanti keempat partai baru itu, yakni Partai Persatuan Indonesia (Perindo), Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Berkarya, dan Partai Garuda akan bersaing ketat dengan para partai lama untuk memperebutkan sekitar 196,5 juta suara aktif masyarakat. Terkait hal itu, upaya diferensiasi menjadi kunci tantangan sekaligus kesempatan bagi partai-partai baru yang mesti dihadapi.

Citra maupun popularitas partai tentu menjadi ujian pertamanya. Partai-partai dituntut untuk mampu tampil dalam pendekatan yang berbeda kepada masyarakat dengan tujuan mendobrak kejenuhan masyarakat dalam memandang partai politik yang selama ini terkesan koruptif sekaligus manipulatif. Bila hal itu mampu dilakukan, kesempatan untuk partai baru dalam mengakumulasi suara dan mendapatkan kepercayaan publik akan semakin terbuka lebar.

Melalui hal itu, maka inovasi politik mutlak diperlukan. Firmanzah (2011) dalam bukunya Mengelola Partai Politik menyebut inovasi politik dalam hal ini dimaksudkan sebagai temuan atau perbaikan atas isu-isu atau program kerja politik yang disesuaikan dengan setiap perubahan yang ada dalam masyarakat. Pertanyaan yang terlontar kemudian, sejauh mana parti politik baru mampu menciptakan gagasan inovasi politik dan tampil sebagai partai alternatif pilihan masyarakat? Atau, hanya akan sama saja dengan pola partai yang sudah ada?

Gagasan Partai 'Alternatif' Seiring hadirnya keempat partai baru dalam daftar peserta Pemilu 2019 kali ini, wacana mengenai adanya partai 'alternatif' pun kembali menyeruak di ranah publik. Hal itu sebagai imbas dari adanya pendekatan partai yang berbeda dengan parta-partai sebelumnya. PSI misalnya, dianggap mewakili suara baru dengan mengusung konsep anak-anak muda kelas menengah sebagai basis pendukungnya. Kampanye yang ditampilkan sering merujuk pada penguatan basis etika publik dengan menyinggung isu korupsi, kesetaraan, maupun keberagaman.

Namun, kondisi itu berbeda dengan ketiga partai lainnya. Perindo dan Partai Berkarya, keduanya masih terlihat menggunakan pendekatan personalistik dengan menampilkan figur kuat dalam citra partainya. Dibandingkan dengan PSI, keduanya jauh lebih bisa dikatakan sebagai partai dengan model partai elektoralis dengan ciri ketiadaan basis massa yang mengakar, ketergantungan yang tinggi terhadap eksistensi figur, dan seringkali memanfaatkan sejumlah potensi untuk meraup keuntungan pada dimensi citra ataupun material

Partai Perindo yang didirikan pada Februari 2015 sejak awal terlihat menonjolkan sosok Hary Tanoesoedibjo selaku Ketua Umum sekaligus pendiri partai. Namun, secara popularitas partai ini bisa jadi lebih unggul dibandingkan ketiga partai lainnya, mengingat pemanfaatan jaringan media yang tersebar luas dan berbagai jenis milik Hary Tanoe untuk mempopulerkan gagasan dan visinya.

Sedangkan, untuk Partai Berkarya sosok Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) tampil dengan pesan kuat untuk melanjutkan kejayaan Sang Ayah. Tak jauh berbeda, kehadiran Partai Garuda pun demikian. Digawangi oleh Ahmad Ridha Sabana mantan Direktur PT Cipta Televisi Indonesia (TPI), partai ini dibayangi oleh sosok Siti Hardiyanti (Tutut Soeharto) yang disebut-sebut ada di balik layar. Partai Garuda kemudian seolah memperkuat anggapan kembalinya trah Cendana pada kontestasi politik 2019.

Melihat situasi ini, gagasan mengenai beberapa partai baru tersebut sebagai partai alternatif akhirnya terlihat kabur. Kehadiran partai baru tersebut masih belum terlihat menampilkan sirkulasi elite baru. Hal ini tentu bersinggungan dengan amanat reformasi politik yang menjadi pijakan dari proses transisi demokrasi yakni memungkinkan lahirnya pemimpin-pemimpin baru sebagai alternatif. Munculnya nama Tommy Soeharto, Siti Hardiyanti, dan Hary Tanoe menjadi bukti bahwa jaringan rezim Orde Baru juga masih saling berkaitan dan berpengaruh dalam lanskap politik Indonesia.

Jebakan Oligarki
Menjadi dilematis apabila kemunculan empat partai baru pada akhirnya juga terjebak pada kondisi yang sama: menguatkan relasi oligarki --penguasaan oleh segelintir orang kaya-- yang sampai saat ini mendominasi arena politik Indonesia. Jeffrey A. Winters (2011) menyebut terjadi pergeseran pola oligarki pasca-Orde Baru, yang sebelumnya bersifat sultanistik dengan sosok sentral Presiden Soeharto, menjadi penguasaan kolektif. Relasi yang dibentuk adalah memanfaatkan patronase yang menyebar, koalisi yang cair, dan sekaligus saling bersaing.

Gejala ini muncul bila kita melihat latar belakang para tokoh utama dari partai-partai baru tersebut. Perindo misalnya, Hary Tanoe dikenal sebagai seorang konglomerat media pemilik jaringan MNC Group yang lahir berkat kedekatannya dengan Cendana. Begitu pula Partai Garuda dan Berkarya yang banyak disebut mendapat dukungan dari jaringan konglomerat lama.

Bagaimana dengan PSI? Hal itu bisa saja terjadi, mengingat PSI juga disokong oleh kekuatan jaringan para pengusaha. Dalam beberapa kesempatan, Grace Natalie --Sang Ketua Umum-- juga menyampaikan bahwa PSI didukung oleh para pengusaha menengah. Melalui hal ini, maka konfigurasi yang terjadi justru bisa dilihat bahwa ini bisa jadi semata pertarungan antarkekuatan oligarki dalam kelas berbeda. Kompetisi akan terjadi dalam perebutan kursi di parlemen, namun koalisi dengan pola pragmatisme terjadi dalam pemilihan presiden.

Pada akhirnya, kemunculan keempat partai baru ini menampilkan kesan yang saling bertolak belakang (paradoksal). Di satu sisi, mereka memunculkan harapan baru sebagai alternatif pilihan berbeda, namun di sisi lain mereka sekaligus dicurigai semakin meneguhkan pola oligarki politik yang saat ini sudah kuat bercokol di banyak partai politik.

Iqbal F. Randa alumnus Ilmu Politik FISIP Universitas Brawijaya
Sumber : detik.com

Kamis, 15 Maret 2018

Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) menegaskan perlunya upaya sistematis dan konstitusional dari pemerintah untuk menjamin perlindungan data pribadi. Hal ini perlu disegerakan mengingat banyaknya kejadian yang mengancam kedaulatan atas hak data pribadi warga negara.

“Berpijak pada UUD pasal 28 huruf G bahwa setiap setiap warna negara berhak atas perlindungan diri pribadi, rasa aman, dan perlindungan dari ancaman, maka FPAN memandang penggunaan data pribadi tanpa seizin pemiliknya sebagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia,” ujar Wakil Ketua Komisi I DPR RI Hanafi Rais Wiryosudarmo dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (15/3).

Baca : 7 Informasi Rahasia Dibalik NIK dan KK

Beberapa peristiwa yang mengindikasikan penggunaan data pribadi tanpa izin pemiliknya, kata dia, kerap kali terjadi. Dia mengatakan masyarakat sering mengalami tiba-tiba ditelepon oleh orang asing yang menawarkan kartu kredit, asuransi atau kredit tanpa agunan, termasuk spam komersial ke nomor seluler.

“Belakangan yang sedang ramai diperbincangkan adalah ada dugaan kebocoran data pribadi atas kebijakan registrasi ulang ‘SIM card’ pengguna layanan seluler,” katanya.

Menelusuri UU yang ada terkait pengumpulan data pribadi, kata Hanafi, FPAN menyimpulkan semangat berbagai UU tersebut dominan pada semangat mengakses, surveillance, serta mengumpulkan data pribadi. Namun, dia menambahkan, tidak dibarengi dengan tanggung jawab yang optimal untuk menjaga dari segala bentuk penyalahgunaan data pribadi.

Karena itu, Hanafi Rais melalui ketua FPAN mendorong secara serius untuk segera dibahas RUU Perlindungan Data Pribadi agar memunculkan kelegaan, rasa aman, dan rasa adil yang dirasakan oleh masyarakat. Fraksi PAN mendapat informasi dari Badan Legislatif DPR RI bahwa RUU Perlindungan Data Pribadi yang merupakan inisiatif pemerintah tidak masuk prolegnas.

“FPAN menyarankan agar institusi-institusi dalam pemerintahan yang terkait dengan data pribadi segera melakukan koordinasi yang intensif dan akseleratif agar mengkristalkan sikap yang satu suara,” tegas Hanafi.

Saat ini, lanjut dia, data pribadi menjadi menjadi komoditas yang paling dicari, tidak hanya oleh pemerintah maupun penegak hukum, akan tetapi juga oleh sektor swasta. Dengan data pribadi, sektor swasta mampu memahami perilaku masyarakat, setelah itu mengelola preferensinya untuk kemudian diarahkan sesuai apa yang diinginkan oleh kepentingan bisnis.

“Celakanya, kesadaran publik untuk menjaga data pribadi minim sekali, diperparah komitmen intitusi baik swasta maupun pemerintah yang menginventarisasi data pribadi relatif rendah,” tuturnya.

Fraksi PAN, tambah dia, sangat serius menjaga kedaulatan warga negara atas hak data pribadi. Oleh karena itu, FPAN membuka diri atas masukan-masukan seluruh elemen masyarakat untuk bertukar pikiran yang bertujuan agar produk UU Perlindungan Data Pribadi menjadi lebih berkualitas dan relevan dengan perkembangan zaman.
<
Jakarta – Ada alasan mengapa nomor induk kependudukan (NIK) dan nomor kartu keluarga (KK) penting dijaga. Pasalnya, setiap angka dari NIK memuat informasi rahasia pemiliknya.
Aktivis internet Damar Juniarto menjelaskan ada sejumlah informasi tersembunyi dari nomor-nomor tersebut. Setidaknya ada tujuh informasi di dalamnya. Berikut rinciannya:
  1. Dua angka pertama dari depan adalah kode provinsi
  2. Dua angka kedua adalah kode kota/kabupaten
  3. Dua angka ketiga adalah kode kecamatan
  4. Dua angka keempat adalah kode tanggal lahir
  5. Dua angka kelima adalah bulan lahir
  6. Dua angka keenam adalah tahun lahir
  7. Empat angka di buntut adalah nomor komputerisasi
Pada KK pun tak berbeda jauh meski tak disimbolkan langsung di angka seperti NIK. Damar menjelaskan dalam KK tetera informasi sensitif mulai dari NIK anggota keluarga, nama ibu kandung, tempat dan tanggal lahir, pendidikan, pekerjaan, dan status perkawinan.
“Saya belum mengerti kenapa registrasi ini membutuhkan kartu keluarga,” tanya Damar yang menjabat koordinator SAFEnet.

Baca :PAN Ungkap Adanya Indikasi Penyalahgunaan Data Telepon Selular

Proses registrasi kartu prabayar menjadi sorotan belakangan ini karena ada aduan dari masyarakat yang mendapati datanya dieksploitasi oleh orang asing. Salah satu korban dari penyalahgunaan data itu adalah pelanggan Indosat Ooredoo yang mengaku NIK miliknya didaftarkan 50 nomor prabayar tak dikenal.
Damar melihat pemerintah belum menyiapkan langkah mitigasi jika terjadi penyalahgunaan data.

Rabu, 14 Maret 2018

Jakarta - Survei yang dilakukan Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai Kopi) menyebut Joko Widodo akan kalah jika melawan kotak kosong pada Pilpres 2019. 

Founder Kedai Kopi Hendri Satrio mengatakan perolehan suara Jokowi pada survei yang dilakukannya, Jokowi hanya mengantongi jumlah poling pada angka 44,9 persen apabila dibandingkan dengan kotak kosong yang memperoleh jumlah suara lebih unggul diangka 56 persen.

"Jokowi versus kotak kosong. jadi jokowi bila diadu dengan siapa pun itu jokowi selalu menang, sama pak prabowo menang, sama anies menang, tapi begitu ditanya di pilpres hari ini siapa yang anda pilih jokowi atau selain jokowi, nah jokowi nya kalah hanya 44,9 persen," ujar Hendri pada diskusi bertajuk Jokowi Pilpres dan kita, di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (3/3).

Menurutnya, saat ini baik parpol dan pendukung loyalis Jokowi harus lebih jelih dalam mengontrol perolehan survei nantinya, yang dimana apabila ingin kembali melenggangkan Jokowi ke Istana maka satu calon belum tentu perlu ada pendamping yang mempuni untuk mendampingi Jokowi.

Selain itu, Hendri juga menilai kalau saat ini Jokowi juga sudah menyadari bahwa elektabilitasnya semakin menurun, maka dari itu Jokowi sangat membutuhkan partai berlambang banteng tersebut untuk kembali menaikan elektabiltasnya dalam menghaddapi Pilpres 2019 mendatang.

"Jokowi menyadari elektabiltas terus menurun dan harus menjaga hubungan dengan PDIP untuk mendongkrak eletabiltasnya, lantas PDIP pun menyambut hal itu, sebab PDIP sendiri perlu booster atau peluru baru untuk mengahadapi PIlkada pada 2018," tutur Hendri 

Lebih dari itu, Hendri juga mengatakan kalau melihat dari berbagi hasil survei Prabowo masih kalah, tapi sepertinya ada langkah sistematis untuk memajukan Prabowo menjadi lawan jokowi di 2019, "jadi artinya kubu jokowi melihat bila melawan prabowo lebih mudah menangnya karena bacaanya sudah ada sehingga secara sistematis probowo satu satunya lawan yang mampu melawan jokowi," pungkasnya.

Minggu, 11 Maret 2018

Oleh Nadya Valose
Foto Profil Facebook Nadya ValoseFoto : Profil Facebook Nadya Valose
Tiba-tiba ada Perpu Ormas, tidak apa-apa nanti kalah di judicial review, yang penting bisa bikin suasana panas.

Tiba-tiba ada revisi undang-undang MD3, tidak masalah walaupun akan kalah di MK, yang penting tokoh bijak yang tidak setuju bisa tampil mengangkat citra sebagai pahlawan tanpa guna.

Tiba-tiba banyak muncul orang gila menyerang, suasana jadi tidak tenang, yang penting bisa menggiring situasi menuju sasaran dan umat gaduh mencari siapa dalang, akhirnya lupa agenda perjuangan.

Tiba-tiba ada ormas yang kesibukannya ributin ormas lain, padahal sejak dulu tidak punya kegiatan dan prestasi, seperti biduan nakal yang baru dapat panggung, tiap hari ramai memancing adu urat leher sambil lempar caci dan maki.

Tiba-tiba ramai lagi postingan polemik tahlilan dan doa qunut, padahal yang posting dulu rajin posting bela ahok terus, kok kini jadi giat posting tahlil dan qunut, isue yang puluhan tahun sudah berlalu dan di lupakan, sekarang di munculkan lagi, ada apa yaa..?

Tiba-tiba ada penangkapan anggota komunitas hoax, walaupun ternyata komunitas hoaxnya terbukti pakai label komunitas orang waras. (ora opo-opo, sing penting geger, lagi-lagi strategi pemecah gelombang konsentrasi..)

Tiba-tiba ada yang kalap soal mahar politik dan bikin gempar sejagad nusantara. Bolak-balik televisi tayang ulang melebihi iklan tolak angin, semua politisi dan partai pura-pura kaget, seolah-olah barang haram, padahal sejak dulu mahar politik makanan sehari-hari sejak partai berdiri.

Tiba-tiba ada aktivis yang berubah arah dukungan, entah yang berubah sikap moral atau sikap politiknya, entah caper atau memang laper, entah keblinger atau ada yang nyawer.

Tiba-tiba muncul wacana, dua profil beda kualitas mau di sandingkan dalam satu kapal, nakhoda di jadikan kelasi, jenderal di jadikan kopral, walaupun mustahil dan cuma basa-basi, yang penting bisa bikin heboh, jadi polemik dan debat kusir, konsentrasi umat terusik lagi.

Sepertinya kejutan demi kejutan akan terus bermunculan hingga di penghujung pemilihan pemimpin negeri.  Opini demi opini terus di bentuk dan di publikasi demi mengangkat reputasi citra penguasa dan menggilas oposisi.

Banyak pengalihan fokus dan konsentrasi di jadikan strategi untuk menguras energi pihak oposisi. Sementara diam-diam fasilitas negara dan birokrasi di jadikan sarana lakukan lobi-lobi.

Jangan mudah dan cepat terhipnotis dengan setiap fenomena yang menyita perhatian selama masa-masa kompetisi pemilihan pemimpin negeri ini. Sekecil apapun fenomena baru yang tiba-tiba muncul untuk menarik fokus dan konsentrasi, wajib di curigai sebagai bagian dari strategi mengalihkan perhatian umat.

Jangan lupa, banyak konsultan-konsultan komunikasi besar yang di bayar untuk mengatur strategi memenangkan kompetesi kekuasaan ini. Segala bentuk skenario yang aneh-aneh pun asalkan bisa mengalihkan perhatian akan di gunakan.

Bahkan bukan mustahil, fenomena remeh temeh sepertiParijem si Ratu Youtube atau ritual haji islam nusantara juga merupakan bagian dari skenario menyedot fokus dan konsentrasi umat agar gagal fokus dan teralih konsentrasi dari agenda perjuangan.

Tak mengapa melirik sejenak dengan fenomena baru diluar konteks perjuangan, namun segera back to basic pada agenda memenangkan pemimpin muslim yang amanah, fatonah dan sidiq bagi negeri yang kita cintai ini.

Waspadalah, waspadalah..!!

Nadya Valose.

sumber : facebook

Sabtu, 10 Maret 2018

Oleh Uswat Sudirman
Saya tiba-tiba tertarik membahas masalah ini. Karena ini adalah memang menarik untuk dibahas, apalagi kalau dihubungkan dengan masalah politik yang sedang terjadi saat ini. Hal yang membuat saya tertarik adalah, pendapat banyak orang yang mengatakan bahwa media massa sekarang ini sudah tidak netral alias ditunggangi kepentingan tertentu terutama kepentingan politik.

Coba anda cermati, di media massa online populer, menjelang pilkada DKI, hampir tiap hari selalu da berita tentang Ahok, bahkan disebuah pemberitaan online bisa lebih dari lima posting dalam sehari.

Disisi lain jika ada berita atau artikel yang mengkritik Ahok akan langsung dapat komentar negatif, mulai dengan komentar yang rasional, sampai dengan yang berupa cacian. Dan yang menarik selalu ada komentar yang sama,”Ahok sosok yang tegas.” “kenapa takut dengan Ahok?” dst. Pola yang sama juga terjadi pada masa-masa menjelang pilpres 2014 yang lalu.

Saya bukan sedang berusaha mempengaruhi anda untuk bersikap anti Ahok, juga bukan sebaliknya. Saya hanya inigin membahas pengaruh media terhadap pembangunan opini publik.

Media massa tentu bukanlah suatu wacana yang asing di tengah masyarakat. Setiap hari manusia tidak bisa lepas dari interaksi dengan media massa. Ia seakan menjadi candu bagi para penikmatnya. Begitu mudahnya media mempengaruhi tingkah laku manusia. Kekuatan inilah yang menjadikan media massa sebagai saluran yang dimanfaatkan untuk mengendalikan arah dan memberikan dorongan terhadap perubahan sosial. “Apa yang dikatakan pers hampir selalu dipercaya oleh publik. Begitu hebatnya pers, sehingga seandainya siang dikatakan pers malam pun, masyarakat (terutama yang lugu) akan mempercayainya.”

Menurut Denis McQuail (2000), media massa memiliki sifat dan karakteristik yang mampu menjangkau massa dalam jumlah besar dan luas (universality of reach), bersifat publik dan mampu memberikan popularitas kepada siapa saja yang muncul di media masssa. Karakteristik media tersebut memberikan konsekuensi bagi kehidupan politik dan budaya masyarakat kontemporer dewasa ini. Dari perspektif politik, media massa telah menjadi elemen penting dalam proses demokratisasi karena menyediakan arena saluran bagi debat publik, menjadikan calon pemimpin politik dikenal masyarakat dan juga berperan menyebarluaskan berbagai informasi dan pendapat. (Denis McQuail (2000), Mass Comunication Theory, 4th Edition, London: Sage Publication, hal 4.) Dapat dicermati bahwa pada praktiknya media massa hingga saat ini tidak memiliki independensi untuk berdiri sendiri tanpa campur tangan pihak lain yang memiliki kepentingan tertentu, artinya media massa cenderung partisan dan belum sepenuhnya netral.

Peran media dalam panggung politik kontemporer semakin tak tergantikan. Fenomena yang muncul, media telah menjadi perpanjangan tangan dari aktor-aktor politik yang bermain. Perannya melampaui apa yang bisa dikerjakan oleh partai politik melalui cara-cara konvensional. Bisa dilihat dari bagaimana elite-elite politik mengeluarkan wacana dan gagasan-gagasannya melalui media. Pada tahap tertentu, media sendiri juga telah menjelma menjadi aktor politik.

Tentu saja tulisan ini bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa para pendukung ahok dalam pilkada yang akan datang merupakan korban media. Dan juga tidak ingin mengatakan bahwa ketokohan Ahok hanyalah hasil pencitraan media massa.

***

Artikel ini pernah muncul pada 10 Maret 2016 di Beledese.wordpress.com Dengan judul Pengaruh Media Massa dalam Pembentukan Opini Publik

Jumat, 09 Maret 2018

Propaganda, ujar Eric Hoffer, bukan menipu masyarakat. Ia hanya membantu masyarakat untuk tertipu.
Eric Hoffer menceritakan kisah sukses propaganda pada tingkat paling cerdas. Ahli propaganda bisa menemukan impulse tersembunyi sebagian orang, memberinya simulasi, dan akhirnya bergerak militan membela atau menyerang hal sesuai dengan yang diinginkan sang dalang propaganda. Dalam banyak kasus, banyak orang tak sadar bahwa mereka bekerja dalam pengaruh proganda.
Itulah yang kini tengah marak di dunia media sosial Amerika Serikat. Betapa banyaknya ruang gelap di sana. Betapa banyaknya propaganda. Betapa banyaknya akun, isu, dan pedebatan yang ternyata direkayasa. Bahkan keseluruhan kerja propaganda itu bisa mempengaruhi hasil akhir pemilu presiden yang memenangkan Donald Trump.
Indonesia harus juga mulai siaga. Ruang gelap sosial media di Amerika Serikat harus menjadi pembuka mata. Ternyata politik tingkat tinggi bisa begitu berbeda. Jika A menyerang B, itu tidak benar benar A menyerang B.
Bisa saja memang A menyerang B. Namun ternyata bisa pula pihak ketiga yang mengesankan A menyerang B. Atau bahkan B sendiri menciptakan situasi agar A seolah olah menyerang B.
Maraknya isu Muslim Cyber Army yang mulai membelah politik Indonesia harus pula mulai diantisipasi. Perlu pula dibuka kemungkinan bekerjanya ruang gelap, politik tingkat tinggi, dan kerja inteligen di balik isu itu.

-000-

Reddit sebuah website informasi yang lengkap dan berpengaruh. Alexa sebagai lembaga rating ternama menyatakan Reddit itu website yang paling banyak dikunjungi no 6 tingkat dunia. Di Amerika Serikat ia bahkan rangking no 4.
Di bulan Febuari 2018 saja, ia dikunjungi oleh 542 juta visitors. Total warga yang mengunjunginya per bulan, 234 juta unique visitors.
Sekitar 57.4 persen pengunjung Reddit warga negara Amerika Serikat. Sekitar 40 persen pemilih Amerika setidaknya sekali dalam sebulan bersentuhan dengan Reddit.
Hari hari ini publik Amerika tercengang soal Reddit. Bahkan pengelola Reddit sendiri terpana. The Guardian 6 Maret 2018 menurunkan berita investigatif. Betapa selama ini medium berpengaruh itu sudah disusupi propaganda yang dikendalikan Rusia untuk mempengaruhi hasil pemilu Amerika Serikat. (Reddit infiltrated by Rusian Propaganda in run-up to US Election).
Ada ratusan akun di Reddit ternyata akun palsu belaka. Ketika dilacak, akun itu sangat dicurigai bagian dari kerja intelijen Rusia.
Kini isu soal bekerjanya jaringan intelijen dalam pembentukan opini di media sosial ramai diungkap. Tak kurang majalah ternama TIME Magazine menurunkan artikel: Inside Russia’s Social Media War on America.
Seorang ahli inteligen Amerika tercengang dan berkata: betapa tertinggalnya Amerika Serikat. Rusia sepuluh tahun lebih maju dibandingkan Amerika Serikat dalam hal menggunakan media sosial untuk mempengaruhi opini publik.
Sejak kemarin saya tengelam mendalami hasil riset dan investigasi permainan politik tingkat tinggi dalam ruang gelap media sosial. Permainan itu bekerja di empat tingkat. Untuk mempengaruhi pemilu presiden di Amerika Serikat, ini yang mereka kerjakan.
PERTAMA, menemukan isu yang paling bisa membantu kemenangan Trump dan citra buruk Hillary Clinton. Ditemukanlah aneka isu. Ada isu yang mencekam sebagian besar pemilih Amerika Serikat: ancaman Islam dan ketakutan akan terorisme.
Ada isu ancaman imigran baik dalam lapangan kerja domestik bagi warga Amerika ataupun kultur kekerasan yang mereka bawa. Ada isu skandal email Hillary Clinton ketika menjabat. Ada isu perselingkuhan suami Hillary Clinton. Ada isu LGBT.
Isu itu segera diubah menjadi senjata untuk diolah agar punya pengaruh elektoral yang signifikan.
KEDUA, menemukan segmen masyarakat atau grup yang paling mudah dipengaruhi oleh isu tersebut. Program algoritma komputer sudah canggih dan sampai di level itu. Maka masuklah kerja intelijen dalam jaringan virtual segmen pemilih yang rentan. Bahkan jika jaringan virtual untuk itu belum terbentuk, kerja intelijen bisa membentuknya.
Guardian misalnya telah menemukan aneka grup virtual hasil rekayasa. Ada grup anti imigran, Secured Borders yang diikuti 133 ribu follower. Ada grup Being Patriotic yang mengeritik pengungsi. Ada grup LGBT united atau Blackactivist soal isu homo dan gerakan kulit hitam.
Kadang cara menarik hati pemilih kulit putih yang anti kulit hitam bukan dengan seruan kepada kulit putih. Namun cukup dengan menciptakan akun aktif kulit hitam yang agresif sehingga pemilih kulit putih yang agak rasis menjadi militan menentang.
KETIGA, menciptakan akun palsu untuk sebar berita. TIME magazine misalnya menemukan akun seorang ibu rumah tangga Amerika Serikat berusia 42 tahun. Ia aktif memberikan opini politik. Ketika dilacak mendalam, ternyata itu akun seorang tentara Rusia yang berdomisili di Ukrania. Atau ada akun facebook yang sangat aktif menyebar isu pengungsi yang membelah publik Amerika. Setelah diteliti, ternyata ia dibuat oleh agen Rusia.
KEEMPAT, menciptakan aneka akun untuk membuat isu menjadi viral. Isu apapun yang dianggap punya efek elektoral mudah saja diviralkan melalui jaringan media yang sudah dirancang.
Demikianlah hari hari ini, Amerika terbelalak mata. Media sosial ternyata punya ruang gelap. Ruang gelap itu sudah digunakan kerja intelijen bahkan untuk mempengaruhi hasil akhir pemilu yang sangat penting: pemilu presiden.
-000-
Publik di Indonesia, aktivis, politisi, ulama dan pendeta, pejabat, polisi dan intel di Indonesia dapat menjadikan media sosial di Amerika Serikat sebagai kasus. Negara yang dulu paling canggih seperti Amerika Serikatpun bisa diperdaya.
Maraknya akun Muslim Cyber Army (MCA) yang membelah opini di Indonesia bisa pula ada soal ruang gelap itu. Mungkin saja semakin dekat menuju pilpres, grup ini membesar. Sementara ruang gelap di balik kasus MCA itu belum tentu cepat terungkap.
Kita semua sepakat bahwa hoax yang menyebar berita palsu dan hate speech itu salah. Namun ketika mengusut siapa dalang MCA dalam politik media sosial, situasi menjadi lebih rumit.
Menggunakan perspektif kasus politik tingkat tinggi media sosial di Amerika Serikat, kini segala hal mungkin.
Kini sebagian kecil yang diduga anggota MCA tertangkap untuk kasus pelanggaran hukum. Siapakah dalang yang tertangkap itu? Mereka bisa saja sekelompok penganut muslim yang radikal. Bisa pula mereka orang naif yang direkayasa menggunakan label MCA.
Bisa saja ada gerakan yang menumpang (penumpang gelap) yang justru ingin menghancurkan MCA sebelum membesar. Bisa pula ia diciptakan pihak korban dari MCA yang bermanuver. Bisa pula itu kerja intelijen dalam negeri atau luar negri.
Lima tahun ini mata kita terbelalak. Al Qaedah dan ISIS begitu dibenci publik negara barat. Ternyata semakin banyak pejabat AS berkata, termasuk Hillary Clinton. Betapa kerja intelijen Amerika Serikat ikut melahirkan dua monster itu.
Ujar Hillary Clinton, jangan lupa! kita sendiri (Amerika Serikat) ikut menciptakan, memberi dana dan melatih Al Qaedah di masa awal. Wow!!!
Begitulah politik tingkat tinggi. Apa yang sebenarnya belum tentu seperti apa yang nampak. Selalu ada ruang gelap dalam politik tingkat tinggi. Ruang itu memang gelap sekali. Dan berbahaya.

-000-

Pemilu presiden 2019 sudah dekat. Media sosial akan memainkan peran signifikan untuk menyebar kebenaran ataupun kebohongan. Yang bertarung dalam pemilu presiden Indonesia tak hanya capres, partai politik, aktivis, media atau konsultan politik.
Siapa bilang RRC dan Amerika Serikat tak berebut pengaruh di sini? Siapa bilang kekuatan asing lain baik untuk kepentingan bisnis, agama atau ideologi tak ingin ikut cawe cawe? Siapa bilang mereka tak berkepentingan siapa yang akan menjadi capres/cawapres Indonesia berikutnya?
Celaka. Kini semua mereka semakin canggih memainkan media sosial untuk membentuk opini.

Oleh: Denny JA



YOGYAKARTA,  - Kontroversi tentang kepemilikan tanah di Daerah Istimewa Yogyakarta kembali mencuat setelah Handoko, mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Yogyakarta.

Warga Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, ini menggugat Surat Instruksi Wakil Gubernur DIY Nomor 898/I/A/1975 tentang Larangan Kepemilikan Hak atas Tanah bagi Warga Nonpribumi.

Gugatan Handoko lalu digagalkan oleh hakim PN Yogyakarta pada 20 Februari 2018. Dia lalu berniat banding.

Prof Suyitno, ahli pertanahan yang juga anggota Parampara Praja DI Yogyakarta, mengatakan, ada sejarah panjang Yogyakarta dari zaman Belanda yang menyebabkan Sultan Hamengku Buwono IX kala itu menerbitkan Surat Instruksi Wakil Gubernur DIY tentang Larangan Kepemilikan Hak atas Tanah bagi Warga Nonpribumi itu.

Menurut Suyitno, sejarah dimulai ketika Hindia Belanda (Indonesia) saat itu dipimpin oleh Gubernur Meester in de Rechten Herman Willem Daendels antara tahun 1808–1811. Saat itu, lanjtu dia, banyak warga pribumi menjual tanah ke perusahaan asing.

Saat kepemimpinan dilanjutkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830, saat itu diberlakukan tanam paksa. Hingga akhirnya ada peraturan Belanda staatsblad tahun 1870 dan akhirnya diturunkan dengan peraturan ground-vervreemdings-verbod yang berisi larangan bagi pribumi untuk menjual tanahnya ke warga asing. Aturan ini tertuang di dalam staatsblad tahun 1875 No 179.

Jika menarik ke belakang, pada tahun 1870, saat modal asing diizinkan untuk masuk, hal ini disebut Opendeur-Politik atau politik pintu terbuka.

Saat tahun 1870, pemerintah Hindia Belanda mendapatkan protes dari kalangan sendiri, lalu menghapus tanam paksa di Pulau Jawa dan menggantinya dengan politik pintu terbuka, hingga pemerintah Belanda menerapkan Undang–Undang Agraria 1870.

"Diasingkan itu dijual, disewakan, dipinjamkan itu enggak boleh. Salah satu alasannya melindungi masyarakat petani dari pengusaha yang mempunyai modal besar," ujar Suyitno.

Lalu, Berdasarkan R Rijksblaad Kasultanan 1918 Nomor 16 jo. Risjkblaad 1915 Nomor 23, dilakukan reorganisasi dengan tujuan memberikan hak atas tanah kepada rakyat biasa dengan hak-hak yang kuat. Tanah sultan ground dibagi dua, yaitu Tanah Mahkota dan Sultanaad Ground. Selain itu, milik Kadipaten Pakulaman, mengatur hal yang sama.

Maksud baik
Suyitno melanjutkan, proses sejarah panjang itu diperkuat dengan adanya UUD 1945 Pasal 18 b ayat 1 dan 2 tentang daerah khusus dan istimewa serta masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisionalnya hingga lahirlah UU Keistimewaan DIY.

"Pasal 18 b UUD 45 mengakui asal-usul hukum adat yang berlaku dan UU No 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan DIY. Artinya, kewenangan otonomi demi untuk menyejahterakan masyarakat supaya tidak ada ketimpangan, dan didasarkan sejarah, maka tidak salah toh kepala daerah melestarikan ketentuan hukum adat," tutur Suyitno.
Menurut dia, peraturan ini tidak hanya terbatas pada golongan Tionghoa, tetapi juga warga nonpribumi lainnya. Sebab, di dalam peraturan tersebut hanya menyebutkan nonpribumi.

Disinggung mengenai apakah kebijakan itu masih relevan dan tidak melanggar hak asasi manusia (HAM), Suyitno menilai, sebagai akademisi, dia melihat tidak ada pelanggaran HAM.

"Kalau menurut saya, apakah itu bertentangan HAM, secara yuridis penggolongan ada, tetapi dari konvensi internasional HAM dirafitikasi pemerintah Indonesia diatur diskriminasi positif. Artinya, pemberlakuan diskriminasi untuk menghilangkan diskriminasi yang sudah ada, yaitu penderitaan masyarakat Indonesia, khususnya golongan kelas 3. Dulu kelas 1 golongan Eropa, kelas 2 golongan kulit kuning, dan ketiga golongan kulit berwarna atau masih miskin. Oleh karena itu, dasarnya kemiskinan," urainya.

"Sampai kapan? Sampai ketimpangan itu tipis, saat ini ketimpangan tinggi. Menyetarakan bukan berarti menyamakan, tetapi ketimpangannya tidak tinggi," lanjut Suyitno.

Dia menilai, pada saat ini, ketimpangan antara kaya dan miskin di Yogyakarta masih sangat tinggi.

"Maksudnya diskriminasi positif. Diskriminasi itu enggak baik, tetapi jika maksudnya baik itu boleh. Untuk menghapuskan akibat dari diskriminasi yang sudah ada. Misalnya, kalau seorang anak dilarang menonton TV melanggar hak asasi atau tidak. Tetapi, larangan ini tujuannya baik," tuturnya.

Oleh karena itu, lanjut Suyitno, peraturan tersebut masih perlu diperlakukan di Yogyakarta sampai benar-benar makmur.

"Kalau menurut pendapat saya, masih perlu. Untuk dicabut atau diberlakukan perlu hati-hati. Dicabut dampaknya juga ada, diberlakukan nanti ribut terus," ujarnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mengapa Warga Nonpribumi Tidak Boleh Punya Tanah di Jogja?"

HOME | ABOUT ME | PEDOMAN MEDIA SIBER
COPYRIGHT 2017 - BAROMET.INFO - PORTAL BERITA TERKINI