Sabtu, 10 Maret 2018

Pengaruh Media Massa dalam Pembentukan Opini Publik

Oleh Uswat Sudirman
Saya tiba-tiba tertarik membahas masalah ini. Karena ini adalah memang menarik untuk dibahas, apalagi kalau dihubungkan dengan masalah politik yang sedang terjadi saat ini. Hal yang membuat saya tertarik adalah, pendapat banyak orang yang mengatakan bahwa media massa sekarang ini sudah tidak netral alias ditunggangi kepentingan tertentu terutama kepentingan politik.

Coba anda cermati, di media massa online populer, menjelang pilkada DKI, hampir tiap hari selalu da berita tentang Ahok, bahkan disebuah pemberitaan online bisa lebih dari lima posting dalam sehari.

Disisi lain jika ada berita atau artikel yang mengkritik Ahok akan langsung dapat komentar negatif, mulai dengan komentar yang rasional, sampai dengan yang berupa cacian. Dan yang menarik selalu ada komentar yang sama,”Ahok sosok yang tegas.” “kenapa takut dengan Ahok?” dst. Pola yang sama juga terjadi pada masa-masa menjelang pilpres 2014 yang lalu.

Saya bukan sedang berusaha mempengaruhi anda untuk bersikap anti Ahok, juga bukan sebaliknya. Saya hanya inigin membahas pengaruh media terhadap pembangunan opini publik.

Media massa tentu bukanlah suatu wacana yang asing di tengah masyarakat. Setiap hari manusia tidak bisa lepas dari interaksi dengan media massa. Ia seakan menjadi candu bagi para penikmatnya. Begitu mudahnya media mempengaruhi tingkah laku manusia. Kekuatan inilah yang menjadikan media massa sebagai saluran yang dimanfaatkan untuk mengendalikan arah dan memberikan dorongan terhadap perubahan sosial. “Apa yang dikatakan pers hampir selalu dipercaya oleh publik. Begitu hebatnya pers, sehingga seandainya siang dikatakan pers malam pun, masyarakat (terutama yang lugu) akan mempercayainya.”

Menurut Denis McQuail (2000), media massa memiliki sifat dan karakteristik yang mampu menjangkau massa dalam jumlah besar dan luas (universality of reach), bersifat publik dan mampu memberikan popularitas kepada siapa saja yang muncul di media masssa. Karakteristik media tersebut memberikan konsekuensi bagi kehidupan politik dan budaya masyarakat kontemporer dewasa ini. Dari perspektif politik, media massa telah menjadi elemen penting dalam proses demokratisasi karena menyediakan arena saluran bagi debat publik, menjadikan calon pemimpin politik dikenal masyarakat dan juga berperan menyebarluaskan berbagai informasi dan pendapat. (Denis McQuail (2000), Mass Comunication Theory, 4th Edition, London: Sage Publication, hal 4.) Dapat dicermati bahwa pada praktiknya media massa hingga saat ini tidak memiliki independensi untuk berdiri sendiri tanpa campur tangan pihak lain yang memiliki kepentingan tertentu, artinya media massa cenderung partisan dan belum sepenuhnya netral.

Peran media dalam panggung politik kontemporer semakin tak tergantikan. Fenomena yang muncul, media telah menjadi perpanjangan tangan dari aktor-aktor politik yang bermain. Perannya melampaui apa yang bisa dikerjakan oleh partai politik melalui cara-cara konvensional. Bisa dilihat dari bagaimana elite-elite politik mengeluarkan wacana dan gagasan-gagasannya melalui media. Pada tahap tertentu, media sendiri juga telah menjelma menjadi aktor politik.

Tentu saja tulisan ini bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa para pendukung ahok dalam pilkada yang akan datang merupakan korban media. Dan juga tidak ingin mengatakan bahwa ketokohan Ahok hanyalah hasil pencitraan media massa.

***

Artikel ini pernah muncul pada 10 Maret 2016 di Beledese.wordpress.com Dengan judul Pengaruh Media Massa dalam Pembentukan Opini Publik
HOME | ABOUT ME | PEDOMAN MEDIA SIBER
COPYRIGHT 2017 - BAROMET.INFO - PORTAL BERITA TERKINI