Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Agustus 2018

Memang mie ayam menjadi jajanan yang sanggup membuat kita 'nagih' untuk terus makan. Apalagi kuah yang kental dengan bumbu yang terasa nendang di lidah. Di Jogja, ada banyak jenis mie ayam yang tersebar dan sanggup membuat perut ingin makan terus.
Nah, berikut penulis merangkum 6 mie ayam enak di Kota Yogyakarta yang sanggup menggoyang lidahmu karena selain nikmat juga murah. Kamu wajib coba nih!

1. Mie Ayam Tunggal Rasa

Saat dilihat sekilas cara penyajiannya memang biasa saja. Tapi kalau kamu sudah coba buat ngicipin rasanya dijaminnagih deh! Mie ayam ini termasuk paling legendaris di Jogja. Selain rasanya enak, mangkoknya juga bisa di makan lho, soalnya terbuat dari pangsit. Hal unik lainnya, mie-nya ada yang berwarna ijo yang ternyata terbuat dari sayuran. Wah, sudah murah bergizi lagi! wajib coba nih.
Warung mie ayam ini berada Jl. Serma Taruna Ramli Nomor 3, Kotabaru, tepatnya di depan SD Unggaran.

2. Mie Ayam Goreng Seyegan

Namanya Mie Ayam Goreng Seyegan, salah satu pelopor di Jogja. Berbeda dengan mie ayam sebelumnya, letak warung mie ayam ini sedikit mblusuk. Walaupun begitu, rasa yang ditawarkan bakal membuat kamu pengen makan terus deh! Makin mantap dengan potongan ayam besar dan juga cekernya yang terkenal empuk.
Alamat warung mie ayam ini ada di Jl, Kebon Agung Mlati Sleman Jogjakarta

3. Mie Ayam Afui

Kalau kamu pecinta mie ayam, gak lengkap rasanya kalau belum mampir ke mie ayam Afui. Mie ayam Afui disajikan terpisah dengan kuahnya yang sedap banget dilengkapi potongan daging ayam yang pas. Ada beberapa jenis yang bisa kamu pilih, seperti mie ayam biasa, mie ayam mini jumbo, mie ayam jumbo atau mie ayam monster.
Alamatnya ada di Jl. Tambak Bayan VII daerah Babarsari, Depok, Sleman (belakang kampus Atmajaya)

4. Mie Ayam Bu Tumini

Mie ayam Bu Tumini ini juga punya julukan unik, yakni Mie Ayam Ndeso. Meskipun begitu mie ayam ini sudah terkenal dan berdiri lebih dari 20 tahun lho. Wajar kalau disebut mie ayam legendaris. Dengan ukuran mie yang panjang serta tebal dapat membuat lidah nagih terus. Apalagi di tambah dengan ayam dan cekernya yang enak. Wah mantap, deh!
Alamatnya ada di Jl. Imogiri Timur Nomor 18, Umbulharjo, Sebelah Utara Terminal Giwangan.

5. Mie Ayam Bangka Pak Apo

Dengan irisan potongan ayam yang enak dan taoge rebus menambah krispi yang 'krenyes-krenyes' ketika kita makan. Selain itu, teksturnya lembut dan juga kenyal. Belum lagi tambahan kaldunya yang pasti nendang di lidah. Nah, Warung  Pak Apo ini menyediakan mie ayam porsi sedang dan jumbo.
Alamatnya ada di Jl. Titi Bumi No.139, Banyuraden, Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55293.

6. Mie Ayam Mas No

Kalau kamu suka mie ayam yang super pedas, maka mie ayam Mas No ini jawabannya. Mie ayam gorengnya berwarna cokelat kehitaman ditambah sawi hijau dan potongan daging ayam, bisa dibubuhi tambahan bakso atau daging. Mie ayam ini bisa memanjakan lidah para penggemar pedas nih. Wajib coba!
Alamatnya ada di Jl. Bima Sakti No. 1 Gondokusuman, Yogyakarta.
Gimana? Sudah memutuskan mau makan siang mie ayam yang mana hari ini?
Serabi kocor merupakan makanan tradisional yang mungkin sudah mulai sulit ditemukan di kota Yogyakarta.
Serabi kocor adalah makanan yang juga merupakan camilan yang terbuat dari tepung beras dicampur dengan parutan kelapa muda.
Cara memasak serabi kocor yaitu dengan dipanggang menggunakan wajan yang terbuat dari tanah liat.
Dalam proses pembutannya, serabi kocor masih menggunakan cara tradisional, yakni dimasak dengan menggunakan kayu bakar.

Dalam bahasa Jawa, kocor berarti siram. Hal tersebut berarti serabi kocor akan dihidangkan dengan disiram menggunakan kuah yang terbuat dari santan dan gula jawa.Serabi Kocor Ngadimen merupakan satu warung yang masih memyediakan makanan tradisional tersebut.

Terletak di Jalan Bantul No. 140 A, anyemengan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul warung tersebut buka mulai pukul 17.00-19.30 Wib.
Saat menikmati serabi kocor tradisional tersebut, pengunjung juga dapat menikmati indahnya senja di kota Yogyakarta.
Tak perlu merogoh kocek dalam-dalam, satu porsi serabi dibandrol dengan harga Rp 2.500 saja.

Dilansir Tribunjogja.com melalui Tribunnews Ngadiem, pemilik warung serabi kocor. telah berjualan sejak 17 tahun yang lalu.
Tentu saja selain lezat, serabi milik Ngadiem sudah melegenda dikalangan wisatawan Yogyakarta. (*)

Kamis, 29 Maret 2018

Baromet.info| Dalam dunia kuliner, Jogjakarta bisa dibilang sebagai salah satu gudangnya kuliner enak dan juga murah. Cara memasaknya yang masih sangat tradisional, memberikan ciri khas tersendiri dalam setiap makanannya. Ada cukup banyak kuliner yang bisa kita cicipi di kota gudeg ini, salah satunya Sego Welut Mbak Surani. Untuk menemukan lokasinya cukup mudah, karena Mbak Surani bersama suaminya membuka lapaknya tiap sore di depan pasar Godean, Jogjakarta. Warung yang bernama Sego Welut Mbak Surani ini berada di seberang selatan Pasar Godean.
Di siang hari, lokasi warung ini digunakan sebagai tempat parkir sepeda dan motor namun di menjelang malam, parkiran ini disulap menjadi warung.Biasanya Mbak Surani bersama suaminya mulai membuka lapak sekitar jam 6 sore sampai jam 10 malam, tapi terkadang jam 12 malam lapaknya masih baru tutup
Untuk seporsi sego welut hanya dibandrol dengan harga 6ribu rupiah, terdiri dari nasi putih yang ditambah dengan lauk mangut welut dan krecek yang lembut. Meskipun sangat sederhana, tapi menu yang satu ini cukup digemari para pembelinya. Seperti yang sudah kita ketahui, welut atau belut ukurannya cukup kecil dan bentuknya seperti ular. Oleh karena itu, ketika mencicipinya langsung saja Saya makan tanpa dipilah-pilah terlebih dahulu. Bumbunya pas dan sedikit pedas, tapi ada sedikit rasa aneh pada saat dikunyah. Perbandingan rasa duri dan dagingnya tidak seimbang, akhirnya sebelum dinikmati terlebih dahulu dipilah-pilah antara duri dan dagingnya sehingga rasanya jadi lebih nikmat. .
Untuk mangut lele Mbak Surani juga menjadi favorite para pembelinya. Rasanya memang enak dan kuah santannya tidak begitu kental. Meskipun dimasak mangut, tapi dagingnya terasa kesat dan bumbunya meresap hingga ke dalam, serta ada aroma yang khas masakan tradisional. Selain welut dan lele, Mbak Surani juga menyediakan aneka baceman, gudeg, telur pindang, ayam, sayur lodeh dan beberapa lauk lainnya yang bisa kita pilih sesuai selera. Kebanyakan para pelanggannya membeli untuk dibawa pulang.
Satu hal lagi yang mengejutkan adalah memadukan kuah mangut ini dengan gudeg gurih, benar-benar perpaduan rasa yang dijamin membuat ketagihan. Sesuatu yang awalnya tidak terbayangkan oleh saya. Tak heran jika warung yang memberi harga menu pesanan saya kurang lebih sebesar Rp. 10.000 ini begitu diminati dan selalu penuh pengunjung.



Warung Pak Mardi yang remang-remang
Berbeda dari sate kere yang ada di Pasar Beringharjo berupa gajih dari daging sapi, sate kere punya Pak Mardi berwujud sate sapi kupat sayur. Warga sekitar warung Pak Mardi selalu berduyun duyun membeli sate kere sampai persediaan habis. Bagaimana sih penampakan sate kere yang pamornya mulai menyebar ke seluruh Jogja?.
Warung makannya sederhana dan terkesan ndeso dengan asap membumbung oleh bakaran sate. Harum sate sapi menusuk nusuk hidung sampai badan ingin segera masuk dan duduk di kursi. Ternyata, di luar perkiraan! Hanya ada satu meja, selebihnya pengunjung diberikan tikar untuk duduk. Namun inilah kekhasan warung Pak Mardi. Kesan merakyatlah yang masuk ke otak. Tinggal memesan sate kere andalan di sini, nih!

Satu piring kupat sayur dengan tempe berasa pedas segar sudah di depan mata. Ada lima tusuk sate kere yang mengilat warnanya sangat menggugah selera. Rasa dari sate ini tak perlu diragukan lagi. Daging sapi yang digunakan diolah menjadi sangat empuk. Karena pada dasarnya daging sapi memiliki tekstur yang cukup keras, sehingga harus pintar-pintar dalam mengolahnya. Kemudian sayur tempe dengan kuah santannya juga tak kalah nikmat. Kuah sayur tempe ini terdapat rasa gurih di dalamnya. Mungkin dari santan yang digunakan. Tetapi juga ada rasa pedas yang menambah kelezatan ketika menyantap sate kere ini. Kuah dari sayur tempe ini menjadi pasangan yang pas, walaupun tidak menggunakan sambal, Anda sudah dapat merasakan pedas dari kuah sayur ini.

Pak Mardi mulai berjualan sate kere sejak tahun 1985. Pada tahun itu Pak Mardi beserta istrinya berjualan dengan gerobak berkeliling di kampung Gesikan dan sekitarnya. Istri Pak Mardi mengaku bahwa dulunya tidak selancar dan seramai sekarang saat berjualan. “Dulu waktu tahun 1985 saya mulai berjualan keliling dengan gerobak, berjalan mendorong gerobak dari ujung timur sampai ke barat kampung Gesikan,” ujar Bu Mardi. Hingga saat ini warung Pak Mardi pada pukul 21.00 WIB biasanya sudah tutup karena satenya ludes terjual. Tetapi jika belum habis, Pak Mardi dan istrinya tetap berjualan hingga tengah malam.

Pada tahun 1990-an, barulah Pak Mardi mulai membuka warung dengan tempatnya sendiri, dan tidak keliling menggunakan gerobak lagi. Tetapi pertama kali memiliki warung, Pak Mardi beserta istri masih harus membayar biaya kontrak tempatnya dan sempat mengalami berpindah-pindah mencari tempat yang baik untuk menjajakan sate kerenya. “Sekitar tahun 1990-an, saya mulai mempunyai tempat sendiri, tetapi itu kontrak. Sempat berpindah-pindah juga karena terkadang tempatnya tidak ada air,” sambung Bu Mardi sambil sibuk melayani pelanggannya.
HOME | ABOUT ME | PEDOMAN MEDIA SIBER
COPYRIGHT 2017 - BAROMET.INFO - PORTAL BERITA TERKINI